Minggu, 04 Desember 2011

FARMAKOLOGI SOSIAL DAN PENGOLAHAN OBAT

TUGAS TERSTRUKTUR KELOMPOK

MATA KULIAH : FARMAKOLOGI SOSIAL DAN PENGOLAHAN OBAT
DOSEN : EKA MULYANTI, S. Farm. Apt


DISUSUN OLEH :
AYU LESTARI                    081510532
TEGUH YULIANTO         081510034
SUSANA                             081510088
HENI NOVIYANTI           081510527
ANDRIAN SATRIADI      081510031
ILUMINATA SISWANA                 081510067








UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
2010

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr. Wb
            Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayahNya lah kami dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “EFEK-EFEK PENGGUNAAN OBAT” dengan baik dan tepat waktu.
            Dalam penulisan makalah ini kami telah banyak mendapatkan bantuan berupa bimbingan, petunjuk, data dan saran maupun dorongan moril dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen kami ibu Eka mulyanti, S.Farm, Apt serta teman-teman yang telah ikut membantu kami.
            Apabila dalam makalah kami ini terdapat kesalahan, maka kami menerima saran dan kritik yang mendukung demi kebaikan makalah kami. Kami berharap apa yang telah dilakukan ini tidak sia-sia dan makalah ini dapat bermanfaat serta berguna bagi seluruh pembaca. Akhir kata kami ucapkan wassalam dan terima kasih.




Pontianak, 12 Mei 2010

Penyusun



DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar...................................................................................................................... i
Daftar Isi................................................................................................................................ ii
Bab I Pendahuluan................................................................................................................ 1
Latar Belakang............................................................................................................ 2
           Tujuan.......................................................................................................................... 3
Bab II Pembahasan............................................................................................................... 4
            Pengertian Obat......................................................................................................... 4
            Jenis-jenis Obat.......................................................................................................... 5
            Efek-efek Penggunaan Obat...................................................................................... 5
Bab III Penutup..................................................................................................................... 7
            Kesimpulan................................................................................................................ 7
Daftar Pustaka ...................................................................................................................... 8

 
BAB I    
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG
Dalam dunia farmasi saat ini berkembang dengan pesatnya yang ditandai dengan banyaknya bermunculan pabrik farmasi baru dan berkembangnya sebuah produk dari satu pabrik yang bias memunculkan aneka ragam merek dan kegunaan sebuah obat yang dihasilkan dari sebuah pabrik farmasi. Dari sinilah kita bangsa Indonesia patut berbangga dengan telah berhasilnya anak- anak bangsa ini bisa memanfaatkan sumber daya yang sangat melimpah tersebar di seluruh tanah air ini.

Sekarang ini dunia kesehatan baru menjadi perhatian semua kalangan baik dari masyarakat yang sudah mulai peduli tentang kesehatan dirinya maka banyak dokter yang praktek sendiri atau berkelompok, kalangan swasta dengan berdirinya poliklinik, rumah bersalin, rumah sakit, pendidikan kesehatan sampai pemerintah sendiri ikut mendukung berkembangnya dunia kesehatan sehingga selalu membimbing dan memantau pelaksanaan undang- undang kesehatan.

Hubungan hukum antar tenaga kesehatan (dokter, apoteker) menjadi perbincangan setelah dikeluarkan UU No. 8 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen. Secara rinci, UU Perlindungan Konsumen memberikan pengaturan tentang hak serta kewajiban, baik bagi pemberi jasa maupun pengguna jasa. Dengan demikian, perlu dilakukan pengkajian terhadap pemberi jasa dibidang kesehatan atau farmasi, karena sifatnya khusus dan teknis serta tidak dapat diketahui oleh sembarang orang. Memang, dalam dunia kesehatan terdapat standart profesi. Akan tetapi, tentunya setiap individu mempunyai kekhususan. Hal inilah yang menyebabkan adanya kekhususan terhadap hubungan antara pemberi jasa kesehatan dengan pengguna jasa. Demikian pula terhadap pemberi jasa di rumah sakit.

Menurut literature, hamper 80 % dari kasus tuntutan malpraktil terjadi di rumah sakit.  Bila ada tuntutan mengenai kejadian di rumah sakit, siapa yang harus dituntut? Dokternya, perawatnya, atau farmasinya.Seberapa jauh rumah sakit bertanggung jawab secara perdata? Diperlukan suatu pengaturan dan peraturan yang jelas mengenai tanggung jawab masing- masing profesi yang terlibat merawat pasien. Misalnya dokter, farmasis, dan ahli gizi.

Seandainya seorang pasien yang keracuna obat diduga akibat : pemakaian obat yang terlalu lama (terakumulasi) sementar efek samping obat tersebut lambat (delay) sehingga meninggal, siapakah yang bertanggung jawab? Apakah dokter saja atau doker dan farmasis? Apakah wajar saat ini hal tersebut dituntut ke farmasis sementarperan farmasis di rumah sakit cenderung hanya menangani hal- hal yang bersifat administrasi dan manajemen barang/ perbekalan. Farmasis sangat jarang dilibatkan dalam melayani atau merawat pasien di ward/ ruangan (farmasi klinik). Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk membuat makalah ini, yang tujuannya supaya konsumen dalam menggunakan obat tepat sesuai aturan pakai obat.

B.     TUJUAN

Penyusunan makalah ini bertujuan agar kita bias mengetahui :
1.      Pengertian obat
2.      Jenis-jenis obat
3.      Efek atau dampak penggunaan obat
Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua.




BAB II
 PEMBAHASAN
A.     PENGERTIAN OBAT
Apotek adalah tempat pengabdian dan praktek profesi farmasi. Kegiatan bisnis yang dilakukan disini, memberikan cirri khusus yang sangat berbeda disbanding usah bentuk lain, walaupun tujuan akhir sama- sama untuk mendapatkan keuntungan sebesar- besarnya. Pembeda nyata yang terlihat tidak saja pada kekhususan barang yang diperjual belikan- obat- obatan, perbekalan farmasi ataupun alat kesehatan lainnya, tetapi juga dari segi persyaratan sahnya penjualan, basarnya risiko barang tidak tepat, aturan pemakaian, dan perbedaan dalam hal standar maksimal harga penjualan.

Demikian pula dalam hal penyerahannya kepada pembeli, dipersyaratkan kehadiran seorang apoteker sebagai sosok yang paling bertanggung jawab terhadap terjaminnya keamana pemakaian obat. Informasi- informasi penting tentang obat merupkan hal yang mutlak dimengerti oleh pasien.Kalau perlu seorang apoteker memberikan waktu khusus untuk menerangkan secara lebih rinci akibat berlanjut dari efek samping obat tersebut.

Dari segi harga, suatu apotik tidak mengenal strategi penjual seperti barang dagang lain yang mengenal baik naik- turunnya harga tergantung kondisi pasar saat tertentu. Sehingga istilah- istilah pemberian diskon, hadiah bagi pembeli jumlah tertentu, sayembara berhadiah dan lain sebagainya, tidak pantas (etis) untuk diterapkan.Jika diperbandingkan dengan took obat, usaha diapotik jelas pula berbeda walaupun secara umum masyarakat tahu bahwa keduanya menjual obat.

Menurut aturannya, toko obat hanya diperbolehkan menjual obat golongan obat bebas dan obat bebas terbatas. Penyerahannya pun tidak harus oleh seorang apoteker tetapi cukup seorang assisten apoteker. Kemudian, toko obat juga tidak berhak melayani resep dokter, baik itu dokter umum,dokter gigi, maupun dokter hewan. Mekanisme pengaturan pendistribusian obat sampai ke konsumen dengan tata cara demikian ini, merupkan upaya pemerintah dalam mencegah penyalahgunaan obat serta beredarnya obat- obat palsu. Untuk kasus obat palsu, sepanjang tahun 1999-2002 ini sudah sebanyak 55 item produk obat palsu disita dalam berbagai razia di sejumlah tempat di Indonesia. Dan dari beberapa pelakunya sudah ditangkap dan divonis pengadilan. Golongan obat-obatan yang banyak dipalsukan di pasaran terutama golonga antibiotika, analgetik,antipiretik, histamin, sirop obat batuk, antidiabetes dan antihipertensi. Harga obat palsu jauh lebih murah, namun penggunaan obat palsu ini tentu saja akan berdampak buruk bagi pasien yang mengkonsumsinya. Sakit tidak berangsur sembuh tetapi kondisi justru bertambah parah.

Obat adalah salah satu zat asing yang masuk kedalam tubuh kita dan memberikan efek atau dampak, bbaik itu di inginkan maupun tidak di inginkan. Masyarakat adalah konsumen atau pengguna obat tersebut. Masyarakat Indonesia masih banyak yang belum bisa mengenyam pendidikan seperti yang diharapkan pemerintah terutama

Masyarakat yang hidup di desa- desa atau yang jauh dari gemerlap perkotaan. Dari keadaan masyarakat diatas maka sebenarnya pabrik farmasi berusaha dengan member informasi atau keterangan kandungan dari sebuah produk obat yang diproduksinya pada bungkus produk tersebut, mengenai :
1.      Nama dagang obat
2.      Mengandung
3.      Farmakologi
4.      Indikasi
5.      Kontra indikasi
6.      Efek samping
7.      Peringatan dan perhatian
8.      Cara penyimpanan
9.      Aturan pakai
B.     JENIS-JENIS OBAT
Ø  Menurut istilah :
1.      Obat jadi
2.      Obat patent
3.      Obat asli
4.      Obat baru
Ø  Menurut UU kesehatan
1.      Obat bebas
2.      Obat bebas terbatas
3.      Obat keras
4.      Obat psikotropika
5.      Obat narkotika

C.     EFEK-EFEK PENGGUNAAN OBAT
Efek samping obat adalah suatu reaksi yang tidak diharapkan dan berbahaya yang diakibatkan oleh suatu pengobatan. Efek samping obat, seperti halnya efek obat yang diharapkan, merupakan suatu kinerja dari dosis atau kadar obat pada organ sasaran. Interaksi obat juga merupakan salah satu penyebab efek samping. Hal ini terjadi ketika tenaga kesehatan (dokter, apoteker, perawat) lalai dalam memeriksa obat yang dikonsumsi oleh pasien, sehingga terjadi efek-efek tertentu yang tidak diharapkan di dalam tubuh pasien. Bertambah parahnya penyakit pasien yang dapat berujung kematian merupakan kondisi yang banyak terjadi di seluruh dunia akibat interaksi obat ini. Interaksi ini dapat terjadi antar obat atau antara obat dengan makanan/minuman. Bahkan tanaman yang digunakan dalam pengobatan alternatif yang disangka aman oleh sebagian besar masyarakat juga dapat berinteraksi dengan obat lainnya. Contohnya adalah tanaman St. John's wort (Hypericum perforatum), yang digunakan untuk pengobatan depresi sedang. Tanaman ini menyebabkan peningkatan enzim sitokrom P450 yang berperan dalam metabolisme dan eliminasi banyak obat-obatan di tubuh, sehingga pasien yang mengkonsumsi St John's wort akan mengalami pengurangan kadar obat lain dalam darah yang digunakan bersamaan.
Berikut ini adalah contoh dari efek samping obat yang biasanya terjadi:
1.      Aborsi atau keguguran, akibat Misoprostol, obat yang digunakan untuk pencegahan (gastric ulcer) borok lambung yang disebabkan oleh obat anti inflamasi non steroid.
2.      Ketagihan, akibat obat-obatan penenang dan analgesik seperti diazepam  serta morfin.
3.      Kerusakan janin, akibat Thalidomide dan Accutane.
4.      Pendarahan usus, akibat Aspirin.
5.      Penyakit kardiovaskular, akibat obat penghambat COX-2.
6.      Tuli dan gagal ginjal, akibat antibiotik Gentamisin.
7.      Kematian, akibat Propofol.
8.      Depresi dan luka pada hati, akibat Interferon.
9.      Diabetes, yang disebabkan oleh obat-obatan psikiatrik neuroleptik.
10.  Diare, akibat penggunaan Orlistat.
11.  Disfungsi ereksi, akibat antidepresan.
12.  Demam, akibat vaksinasi.
13.  Glaukoma, akibat tetes mata kortikosteroid.
14.  Rambut rontok dan anemia, karena kemoterapi melawan kanker atau leukemia.
15.  Hipertensi, akibat penggunaan Efedrin. Hal ini membuat FDA mencabut status ekstrak tanaman efedra (sumber efedrin) sebagai suplemen makanan.
16.  Kerusakan hati akibat Parasetamol.
17.  Mengantuk dan meningkatnya nafsu makan akibat penggunaan antihistamin.
18.  Stroke atau serangan jantung akibat penggunaan Sildenafil (Viagra).
19.  Bunuh diri akibat penggunaan Fluoxetine, suatu antidepresan.




BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Dalam rangka mensehatkan masyarakat tanpa membedakan tingkat pendidikan dan wilayah maka produsen farmasi obat harus memberikan penjelasan tentang produk obat yang dipasarkan baik lewat dokter/apotik maupun langsung lewat warung-warung yang ada pada sudut-sudut kehidupan masyarakat, dengan menggunakan teknologi visual atau gambar yang tujuanya memberikan penjelasan pada pemakai obat sehingga semua rantai yang terhubung bisa memahami maksud dari obat itu














DAFTAR PUSTAKA




Senin, 28 November 2011

Problem

bangun tidur, mandi, makan dan minum, jalan-jalanan, pacaran, hangout, hobbyku, sikapku, semunya masalahku. termasuk semua yang secara tidk langsung ada kaitannya denganku, kupertanggungjawabkan semua sebagai evaluasi diri. disini aku menempatkanku sebagai makhluk individual yang mempunyai hak dan kewajiban untuk mengatur semua seperti yang ku mau tanpa harus ada yang merasa berkepentingan untuk ikut campur, apa lagi kalau kesannya hanya mengganggu.
go away...........

Kamis, 20 Oktober 2011

LINGKUNGAN  ALHAMDULILLAH  YA
aku lahir dari keluarga yang cukup sederhana. lahir dengan sehat jasmani dan rohani. alhamdulillah ya.
masa kecilku kulewati dengan penuh keceriaan dan harapan jika besar nanti ingin jadi itu dan ini, ingin begitu dan begini.  macam-macam cita-cita dan harapan.
kenyataan hidup mengiringi langkah panjangku dan sampailah aku di hari ini (20/10/2011). tak ada yang istimewa di hari ini tapi Alhamdulillah ya, aku masih bernafas, masih ada teman-teman yang menemani dalam suka dan duka. tapi yang paling istimewa dia masih di sisiku sejak 3 tahun lalu.
sekarang aku tinggal di Jalan Purnama Gang Mentari (nomor rumah ntah lah ye), Alhamdulillah ya, ada banyak teman-temanku disana dengan banyak pula spesiesnya. disana ada Usup, Epul, Yus, Man, Joy, Suar, Icu & Tante Tuti. walau sokot tapi hati lapang, tak heran jika masih bisa menampung pengingsi dari sui Jawi.
Semuanya Alhamdulillah Ya...............

Jumat, 29 April 2011

Makalah Hospital malnutrion


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Malnutrisi biasa terjadi di masyarakat. Namun, bisa juga terjadi saat dirawat di rumah sakit, istilahnya malnutrisi klinis. Tak hanya terjadi di rumah sakit kecil dan besar di dalam negeri, rumah sakit di luar negeri pun menghadapi masalah malnutrisi klinis ini. Istilah malnutrisi sering diartikan sebagai kurang gizi. “Meskipun pengertian sesungguhnya malnutrisi adalah salah makan, malnutrisi bisa berarti terlalu banyak makan atau kurang makan,”.
bagaimana mungkin, seorang pasien yang dirawat di rumah sakit justru menderita malnutrisi? Jika seseorang menjalani rawat inap di rumah sakit, bukan jaminan pasien itu tidak akan mengalami malnutrisi. Ada beberapa faktor yang dapat mengakibatkan pasien mengalami malnutrisi saat rawat inap. Kondisi pasien malnutrisi di rumah sakit bisa saja terjadi karena sudah malnutrisi saat masuk RS. Atau juga kondisi pasien sewaktu masuk dalam kondisi gizi baik, namun selama perawatan menjadi buruk. Satu contoh sederhana, pasien selama dirawat inap tidak mau makan otomatis gizinya akan memburuk. Entah karena berbagai alasan seperti tidak berselera, menu yang tidak memikat, lingkungan sekitar yang tidak membuat berselera (misalnya, satu ruangan dengan pasien yang kerap batuk berdahak), dan memang pasien itu sendiri mengalami gangguan pencernaan.
“Malnutrisi di rumah sakit sebenarnya karena masalah kurang peduli gizi,” ungkap Triyani. Menurut data yang ada, di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 1989 pasien mengalami malnutrisi saat masuk 45.9%. Tak hanya RS Cipto, di RS Sumber Waras Jakarta tahun 1995 pasien yang mengalami malnutrisi saat masuk 42.26%. Sedangkan di RSPAD Gatot Subroto Jakarta tahun 2001 saat masuk, pasien malnutrisi 41.2% dan perlu terapi gizi 78.57%. Data terakhir di RS Hasan Sadikin Bandung 2006 saat masuk pasien malnutrisi 71.8% sampai yang berat mencapai 28.9%. Malnutrisi yang terjadi selama dirawat di RS sebenarnya iatrogenik (dibuat oleh dokter) dan dapat digolongkan sebagai kelalaian dokter.

B.     TUJUAN
Makalah ini disusun Untuk mengetahui :
1.      Penyebab malnutrisi
2.      Dampak atau efek dari malnutrisi
3.      Langkah-langkah penanggulangan malnutrisi
4.      Dan kasus-kasus berupa fakta adanya masalah malnutrisi di sekitar kita
Mudah-mudahan berguna untuk ita semua.











BAB II
PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN
Hospital malnutrion adalah kesalahan maupun kekurangan gizi yang terjadi di rumah sakit. Sedangkan malnutrion adalah gangguan gizi yang dapat diakibatkan oleh Masukan nutrisi yang tidak cukup jumlah atau macamnya yang disebabkan oleh asupan makanan yang kurang, gangguan pencernaan atau absorbsi dan Kelebihan makanan.
B.     PENYEBAB
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya kasus malnutrisi. Dana Anak-Anak PBB atau UNICEF (United Nations Children's Fund) menyatakan bahwa ada dua penyebab langsung terjadinya kasus gizi buruk, yaitu kurangnya asupan gizi dari makanan dan akibat terjadinya penyakit yang menyebabkan infeksi. Kurangnya asupan gizi bisa disebabkan oleh terbatasnya jumlah makanan yang dikonsumsi atau makanannya tidak memenuhi unsur gizi yang dibutuhkan. Sedangkan, malnutrisi yang terjadi akibat penyakit disebabkan oleh rusaknya beberapa fungsi organ tubuh sehingga tak bisa menyerap zat-zat makanan secara baik.
Faktor ketersediaan pangan yang bergizi dan terjangkau oleh masyarakat menjadi unsur penting dalam pemenuhan asupan gizi yang sesuai di samping perilaku dan budaya dalam pengolahan pangan dan pengasuhan anak. Pengelolaan lingkungan yang buruk dan perawatan kesehatan yang tidak memadai juga menjadi penyebab turunnya tingkat kesehatan yang memungkinkan timbulnya beragam penyakit.

Meski Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya akan sumber daya alamnya, bahkan tahun lalu kembali berhasil memenuhi sendiri kebutuhan pangannya (swasembada pangan), namun ternyata masih banyak masyarakat yang belum bisa memenuhi kebutuhannya akan bahan pangan. Faktor ekonomilah yang menjadi masalahnya. Demikian pula, dengan perawatan kesehatan yang masih menjadi barang mewah di negeri ini. Kemiskinan telah membuat banyak penduduk Indonesia memilik akses yang sangat terbatas terhadap produk pangan yang berkualitas. Berdasarkan catatan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), jumlah penduduk yang masuk kategori miskin pada 2008 mencapai 41,7 juta jiwa. Jadi, jangan heran jika kasus gizi buruk masih sering terjadi.
Tetapi, kemiskinan bukanlah satu-satunya akar masalah gizi buruk. Tingkat pengetahuan dan pendidikan yang rendah menjadi faktor penting terjadinya kasus gizi buruk. Tak sedikit kasus gizi buruk menimpa keluarga yang sebenarnya mapan secara ekonomi. Penyebabnya, keluarga tersebut tak memiliki pengetahuan yang cukup tentang masalah gizi dan kesehatan. Ibarat rantai, banyak faktor yang saling berkait menjadi penyebab terjadinya lingkaran gizi buruk yang tidak ada habisnya. Perlu ada upaya untuk memutus mata rantai penyebab gizi buruk ini.







C.    DAMPAK
Penyebab utama kasus gizi buruk di kota metropolitan tampaknya bukan karena masalah ekonomi atau kurang pengetahuan. Kasus gizi buruk di kota besar biasanya didominasi oleh malnutrisi sekunder. Malnutrisi sekunder adalah gangguan peningkatan berat badan atau gagal tumbuh (failure to thrive) yang disebabkan karena karena adanya gangguan di sistem tubuh anak. Sedangkan penyebab gizi buruk di daerah pedesaan atau daerah miskin lainnya sering disebut malnutrisi primer, yang disebabkan karena masalah ekonomi dan rendahnya pengetahuan.

MALNUTRISI PRIMER
Gejala klinis malnutrisi primer sangat bervariasi tergantung derajat dan lamanya kekurangan energi dan protein, umur penderita dan adanya gejala kekurangan vitamin dan mineral lainnya. Kasus tersebut sering dijumpai pada anak usia 9 bulan hingga 5 tahun, meskipun dapat dijumpai pada anak lebih besar. Pertumbuhan yang terganggu dapat dilihat dari kenaikkan berat badan terhenti atau menurun, ukuran lengan atas menurun, pertumbuhan tulang (maturasi) terlambat, perbandingan berat terhadap tinggi menurun
Gejala dan tanda klinis yang tampak adalah anemia ringan, aktifitas berkurang, kadang di dapatkan gangguan kulit dan rambut. Kasus marasmik atau malnutrisi berat karena kurang karbohidrat disertai tangan dan kaki bengkak, perut buncit, rambut rontok dan patah, gangguan kulit. Pada umumnya penderita tampak lemah sering digendong, rewel dan banyak menangis. Pada stadium lanjut anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.

Marasmik adalah bentuk malnutrisi primer karena kekurangan karbohidrat. Gejala yang timbul diantaranya muka seperti orangtua (berkerut), tidak terlihat lemak dan otot di bawah kulit (kelihatan tulang di bawah kulit), rambut mudah patah berwarna kemerahan dan terjadi pembesaran hati. Anak tampak sering rewel, cengeng dan banyak menangis. Pada stadium lanjut yang lebih berat anak tampak apatis atau kesadaran yang menurun.
Pada penderita malnutrisi primer dapat mempengaruhi metabolisme di otak sehingga mengganggu pembentukan DNA di susunan saraf. Pertumbuhan sel-sel otak baru atau mielinasi sel otak juga terganggu yang berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kecerdasan anak. Mortalitas atau kejadian kematian dapat terjadi pada penderita malnutri primer yang berat. Kematian mendadak dapat terjadi karena gangguan otot jantung.


MALNUTRISI SEKUNDER
Malnutrisi sekunder adalah gangguan pencapaian kenaikkan berat badan yang bukan disebabkan penyimpangan pemberian asupan gizi pada anak Tetapi karena adanya gangguan pada fungsi dan sistem tubuh yang mengakibatkan gagal tumbuh. Gangguan sejak lahir yang terjadi pada sistem saluran cerna, gangguan metabolisme, gangguan kromosom atau kelainan bawaan jantung, ginjal dan lain-lain.
Data penderita gagal tumbuh di Indonesia belum ada, di negara maju kasusnya terjadi sekitar 1-5%. Artinya bila di Indonesia terdapat sekitar 30 juta anak, maka diduga terdapat 300.000 - 500.000 anak yang kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Bila di Jakarta terdapat 1 juta anak maka sekitar 10.000 - 50.000 anak mengalami kurang gizi bukan karena masalah ekonomi. Kasus tersebut bila tidak ditangani dengan baik akan jatuh dalam keadaan gizi buruk.
Gambaran yang sering terjadi pada gangguan ini adalah adanya kesulitan makan atau gangguan penyerapan makanan yang berlangsung lama. Tampilan klinis gangguan saluran cerna yang harus dicermati adalah gangguan Buang Air Besar (sulit atau sering BAB), BAB berwarna hitam atau hijau tua, sering nyeri perut, sering muntah, mulut berbau, lidah sering putih atau kotor.
Manifestasi lain yang sering menyertai adalah gigi berwarna kuning, hitam dan rusak disertai kulit kering dan sangat sensitif. Berbeda pada malnutrisi primer, pada malnutrisi sekunder tampak anak sangat lincah, tidak bisa diam atau sangat aktif bergerak. Tampilan berbeda lainnya, penderita malnutrisi sekunder justru tampak lebih cerdas, tidak ada gangguan pertumbuhan rambut dan wajah atau kulit muka tampak segar.
 pada kasus malnutrisi sekunder sering terjadi overdiagnosis tuberkulosis (TB). Overdiagnosis adalah diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal belum tentu mengalami infeksi TB. Overdiagnosis tersebut terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada. Hal lain adalah kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Sebaiknya bila diagnosis TB meragukan dilakukan konsultasi ke dokter ahli paru anak.






D.    UPAYA PENGGULANGAN
·         Membentuk tim operasi sadar gizi (OSG) yang bertanggung jawab dalam  keseluruhan      proses     pencegahan      dan    penanggulangan        gizi  buruk
·         Perawatan gizi buruk melalui Puskesmas perawatan dan Rumah Sakit di  kelas 3(kelas ekonomi) dengan gratis
·         Melakukan        operasi   sadar   gizi  yang  mencakup      deteksi  dini  penemuan kasus melalui operasi timbang dengan mengukur balita.
·         Puskesmas         melakukan      tindak   lanjut   kasus    gizi  buruk    yang    tidak  memerlukan        perawatan      dan     mendapatkan        makanan       tambahan. Memberikan bantuan pangan darurat bagi keluarga miskin
·         Memberikan        penyuluhan     gizi  dan  kesehatan    melalui   Posyandu,     Tokoh Agama   (Tuan   Guru),   Perkumpulan   Keagamaan   dan   kelompok   potensial  lainnya.









E.     FAKTA